Bumi

Mengapa 1 Tahun 12 Bulan? (Oleh Yessi Pratiwi)

Pernah kepikiran, mengapa 1 tahun =12 bulan?

Satu tahun adalah jangka waktu satu musim ke musim berikutnya, misalnya dari musim hujan sampai musim hujan atau musim panas ke musim panas berikutnya. Karena musim ditentukan oleh peredaran Bumi mengelilingi Matahari, maka lebih tepat kalau disebutkan bahwa satu tahun adalah jangka waktu tempuh Bumi mengelilingi Matahari satu putaran. Menurut perhitungan astronomi, Bumi mengelilingi Matahari dalam waktu 365,2422 hari. Itu kira-kira 12 bulan.

Artikel disarikan dari sumber asli (Bumi Bulan Matahari) oleh :T. Djamaluddin, LAPAN-Bandung

Bicara Zodiak, Bicara Ekuinoks (Oleh Yessi Pratiwi)

Darimana asal-usul zodiak?

Zodiak adalah rasi bintang istimewa. Pada tahun 1928, organisasi Himpunan Astronomi Internasional telah menetapkan penggunaan 88 buah rasi bintang untuk keperluan pemetaan langit.

Bentuk dari sekumpulan bintang lalu secara sederhana kita sebut sebagai rasi atau konstelasi. Dari ke-88 buah rasi bintang tersebut, terdapat beberapa buah yang menempati tempat istimewa, yang membuatnya dikenal sebagai zodiak.

Saat rasi bintang ini menempati ekliptika tertentu, lantas ia akan disebut sebagai zodiak. Bidang khatulistiwa langit dan ekliptika diketahui masing-masing tampak berputar dalam arah yang berlawanan. Kedua ekuinoks yakni the first point of Aries dan the first point of Libra tidak selalu berada di tempat yang sama di bidang ekliptika setiap tahunnya. Kedua ekuinoks bergerak (berpresesi) melalui zodiak-zodiak.

Hanya sekedar mengingatkan, artikel ini hanya membahas tentang rasi bintang. Jadi sama sekali gak ada hubungannya dengan ramalan…

Perang Semut (Oleh Yessi Pratiwi)

Kalau Kamu berpikir bahwa perang terjadi hanya di dunia manusia, koreksilah pendapat itu. Perang juga terjadi di dunia hewan—animal kingdom—diantaranya adalah semut.

Beberapa jenis semut memang ada yang bertugas sebagai ksatria dalam perang yang disebut ‘perang semut’. Perang bisa jadi terjadi karena perebutan tempat tinggal, makanan, permaisuri, dan lain-lain (masalah pribadi, mungkin? :-D)

Tidak tanggung-tanggung, perang ini menyebabkan ribuan semut mati setiap harinya. Bayangkan, kamu bertemu wajah di bawah ini di

medan

perang. Haha. Untung saja ukurannya jauh lebih kecil dari tubuh kita.

Keunikan Bumi dari Planet Lain (Oleh Yessi Pratiwi)

Apakah Bumi seperti planet-planet lain?

Tidak. Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus adalah bola-bola besar yang hamper seluruhnya tersusun dari gas. Planet-planet itu tidak mempunyai kerak yang padat dan berbatu seperti bumi.

Merkurius, Venus, dan Mars padat di luarnya seperti Bumi, tapi tentu saja kita tidak bisa bertahan hidup disana. Malam hari di Merkurius sangat dingin dan lama, sedangkan siang harinya panas dan lama.

Venus panas menghanguskan. Mars sangat dingin. Tak satu pun dari planet-planet ini yang mempunyai Oksigen untuk bernapas atau air untuk minum. (Pada planet-planet yang lebih panas, air cepat menguap dan berubah menjadi gas. Pada planet-planet yang lebih dingin, air cepat membeku).

Bumi sangat ideal sebagai tempat tinggal karena tidak terlalu panas atau dingin. Bumi menjadi satu-satunya planet, yang kita tahu, memiliki makhluk hidup.

Petir, Pelepasan Elektron Tingkat Tinggi

(Oleh Yessi Pratiwi)

Bicara tentang fenomena alam tidak ada habisnya. Semuanya mengagumkan : musim, matahari, bulan, hujan, petir, dll.

Hei, kita belum pernah bahas tentang petir ya? Kalo gitu, kita bahas saja petir pada artikel ini.

Kalau dengar kata ’petir’, hayo, apa yang terlintas di benak kamu? Tenaga listrik tegangan tinggi yang dahsyat? Kilatan cahaya dengan kecepatan super tinggi? Suara menggelegar dari alam yang menakutkan?

Bisa dibilang, semua itu adalah tanda-tanda saat petir muncul. Kita tidak bisa bilang tidak, petir memang menakutkan. Karena? Secara ilmiah, petir merupakan pelepasan listrik di atmosfer. Pelepasan arus listrik darimana? Begini ceritanya.

Awan bisa jadi mengandung muatan listrik karena saat bergerak dan bergesekan dengan awan lainnya, akan terjadi akumulasi muatan negatif pada salah satu sisi. Muatan positif akan berkumpul pada sisi yang satunya lagi.

Akibat akumulasi elektron ini, maka akan timbul perbedaan perbedaan tegangan antara awan dan bumi. Pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya perlu dilakukan agar tercapai kesetimbangan. Pembuangan muatan ini melalui udara sebagai medianya.

Pertanyaan selanjutnya mungkin sama buat beberapa orang : mengapa petir banyak terjadi pada musim hujan?

Jawabannya tentu saja berkaitan dengan karakteristik musim hujan sendiri. Saat musim hujan, udara mengandung kadar air yang lebih tinggi. Kadar air yang tinggi ini menyebabkan turunnya daya isolasi sehingga arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan. Semakin banyak awan, semakin besar kemungkinan dihasilkannya arus listrik. Semakin besar perbedaan arus listrik, semakin besar pula elektron yang harus dipindahkan, sehingga petir akan menjadi lebih menakutkan.

Oiya, kenapa petir disertai kilatan cahaya? Kilatan cahaya ini merupakan bentuk pelepasan listrik dengan kecepatan 96.000 km/jam. Pernah melihat sumber arus yang mengeluarkan jilatan listrik kecil saat dihubungkan dengan steker? Nah, mirip begitu.

Kilat petir terjadi dalam bentuk setidaknya dua sambaran. Pada sambaran pertama muatan negatif mengalir dari awan ke permukaan tanah. Menurut sebuah sumber, energi yang dilepaskan oleh satu sambaran petir lebih besar daripada yang dihasilkan oleh seluruh pusat pembangkit tenaga listrik di Amerika. Wow!!

Mengapa Langit Biru? (Oleh Yessi Pratiwi)

Langit hanya berwarna biru di siang hari.

Ada

beberapa sebab mengapa langit saat itu berwarna biru. Bumi diselubungi lapisan udara yang disebut atmosfir. Walaupun tidak tampak, udara sebenarnya terdiri atas partikel-partikel kecil.

Cahaya dari matahari dihamburkan oleh partikel-partikel kecil dalam atmosfir itu. Tetapi kita tahu, cahaya dari matahari terdiri dari paduan semua warna, dari merah, kuning, hijau, biru, hingga ungu. Warna-warna itu memiliki frekuensi yang berbeda. Merah memiliki frekuensi yang lebih kecil dari kuning, kuning lebih kecil dari hijau, hijau lebih kecil dari biru, biru lebih kecil dari ungu. Semakin besar frekuensi cahaya, semakin kuat cahaya itu dihamburkan.

Warna langit adalah sebagian cahaya matahari yang dihamburkan. Karena yang paling banyak dihamburkan adalah warna berfrekuensi tinggi (hijau, biru, dan ungu), maka langit memiliki campuran warna-warna itu, yang kalau dipadukan menjadi biru terang.

Karena warna biru banyak dihamburkan, maka warna matahari tidak putih sempurna, seperti yang seharusnya terjadi jika semua warna dipadukan. Warna matahari menjadi sedikit agak jingga.

Pada sore hari, sering matahari berubah warna menjadi merah. Pada saat itu, sinar matahari yang sudah miring menempuh jarak lebih jauh untuk mencapai mata kita, sehingga semakin banyak cahaya yang dihamburkan. Yang banyak tersisa adalah cahaya frekuensi
rendah, yaitu merah.

Di bulan dan di planet yang tidak memiliki atmosfir, cahaya matahari tidak dihamburkan, sehingga langit selalu berwarna hitam, walaupun di siang hari.

Dekat Matahari Malah Dingin (Oleh: Koen)

Mengapa tempat yang tinggi udaranya lebih dingin, padahal

kan

jaraknya ke matahari lebih dekat ?

Sinar matahari memang dapat memanaskan udara, tetapi tidak banyak. Bumi, yaitu daratan dan perairan, menyerap panas sinar matahari lebih cepat daripada udara, dan berikutnya
bumi menyebarkan panasnya ke udara melalui kontak langsung (bukan radiasi).

Tempat yang tinggi lebih jauh dari sebagian besar posisi bumi, juga kerapatan udaranya kurang dari tempat yang rendah.

Leave a Reply